adults need to be involved in the planning and evaluation of their instruction (Self-concept and Motivation to learn), experience (including mistakes) provides the basis for learning activities (Experience), adults are most interested in learning subjects that have immediate relevance to their job or personal life (Readiness to learn), adult learning is problem-centered rather than content-oriented (Orientation to learning).

Awalnya, metode pelatihan yang digunakan oleh PSHK sangat terbatas. Kebanyakan ceramah dan tanya jawab. Seperti kuliah konvensional di kampus. Paling ditambah studi kasus, karena intinya memang praktek penggunaan metode pemecahan masalah (MPM) dan perancangan peraturan. Juga ditambah sedikit permainan di sela-sela sesi.
Yang menarik, pendekatan yang mulai dipakai rival untuk menggunakan kartu-kartu anak-anak untuk sesi pengelompokkan dan penata-urutan peraturan (grouping and ordering). Sementara, waktu pelatihan DPD kemarin, saya dan Anna menggunakan resep makanan.
Yang saya “curi” dari metode yang dipakai mas Dani waktu SP adalah “mandala”. Metode ini saya gunakan untuk membantu ibu-ibu anggota legislatif aceh untuk berefleksi, sebelum mereka masuk ke materi soal bagaimana peran mereka sebagai legislatif perempuan dalam fungsi legislasi yang mereka miliki. Mandala adalah sebuah gambar bulatan yang di tengahnya ada sebuah gambar dan kemudian di antara lingkaran dalam dan lingkaran luar dibagi-bagi lagi untuk diisi dengan gambar-gambar lainnya. Untuk ibu-ibu itu, saya minta mereka menggambar simbol atau gambar apapun yang bisa menceritakan “kenapa mau menjadi anggota legislatif?” untuk bagian tengah. Sementara ruang di antara lingkaran tengah dan lingkaran terluar kita bagi menjadi tiga bagian untuk tiga gambar: cita-cita sebagai anggota legislatif perempuan, kelebihan sebagai anggota legislatif perempuan, dan masalah perempuan yang paling menjadi perhatian. Gambar-gambar ini hanya alat untuk mereka berefleksi sewaktu menggambar dan kemudian bercerita lebih banyak ketika mereka diminta menceritakan makna gambar-gambar itu. Saya cukup suka metode ini sebagai alat refleksi. Sebab sewaktu SP, terasa betul efek refleksi itu pada saya.Beberapa peserta tampak malu-malu. "Kayak mana ini.. saya nggak bisa menggambar." Susah juga saya meyakinkan mereka bahwa bukan gambar yang mau dinilai. Mungkin karena mereka tidak biasa: pelatihan kok disuruh menggambar! :-) Sebagian lagi, meniru gambar lambang perempuan yang kebetulan terpampang di halaman awal presentasi saya. Sebuah strategi yang salah untuk menayangkan gambar itu di bagian awal. Tapi toh yang penting memang refleksinya. Cerita-cerita mereka sangat menarik! Ada yang berkeinginan membantu perempuan buruh perkebunan di kabupatennya. Ada yang ingin membantu perempuan korban konflik di Aceh. Ada yang hobi berkebun dan menganggap itu sebagai kelebihannya untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam hal ekonomi, dan lain sebagainya. Dari situ, baru saya presentasikan soal peran hukum dan fungsi legislasi mereka, dengan selalu mengaitkannya dengan potongan-potongan cerita mereka. Kesimpulannya, banyak yang bisa dilakukan untuk perempuan melalui fungsi legislasi. Banyak Qanun yang bisa didorong dan perlu dicegah :-) supaya perempuan di Aceh tidak lagi tertindas dan semakin berdaya.
Sekarang ini kita sedang terus menerus mengembangkan metode pelatihan. Saya yakin setiap pulang pelatihan pasti banyak cerita baru dari para fasilitator. Tapi yang jelas, buat saya (dan saya yakin juga buat kawans lain), banyak hal yang juga saya pelajari dari peserta setiap pelatihan. Dan tentu saja yang paling membuat saya seringkali seperti batere yang di-charged adalah setiap kali mendengar pengalaman mereka.
No comments:
Post a Comment