Ini video LDT I PSHK di Bali Juli 2008 lalu. Pelatihan yang terbuka untuk umum ini pernah kami umumkan di sini. Dan "opening video"-nya juga sudah kami unggah ke sini. Sekarang, silakan nikmati videonya! :-) Video ini sudah diedit (bukan yang asli dari Rendra) supaya pas di youtube dan juga ada bagian-bagian yang diminta untuk dihilangkan oleh pihak-pihak tertentu yang pingin jaim ;-)
Enjoy!
Showing posts with label metode pelatihan. Show all posts
Showing posts with label metode pelatihan. Show all posts
Monday, 13 October 2008
LDT I PSHK di Bali, Juli 2008
Thursday, 10 April 2008
Peltihan untuk DPR Kabupaten Pidie Jaya di Banda Aceh 5-8 April 2008
Tuesday, 25 March 2008
Pelatihan untuk DPR Kabupaten Bener Meriah, di Takengon, 20-23 Maret 2008
Thursday, 4 October 2007
Ular Tangga Legislasi
Suka main Ular Tangga? PSHK punya “ular tangga legislasi”

Permainan Ular Tangga yang dimodifikasi ini adalah kreativitas ery, erni dkk awal tahun lalu. Kami sendiri agak jarang memainkannya. Paling-paling waktu pameran atau selagi iseng menunggu diskusi legislasi dimulai. Tapi itupun dilakukan hanya oleh Anna dan Lia. Tapi minggu lalu di pesawat Hanoi-Jakarta tiba-tiba saya terpikir untuk membawa segepok mainan ular tangga berikut setoples dadu dan "prajurit-prajurit"nya ke Banda Aceh esok pagi. Saya, Reny, dan Sugi (yappika) diminta oleh ACSTF untuk memberi pelatihan untuk jaringan pemantau parlemen yang sedang mereka bangun. Ini memang bagian dari dorongan kami, apalagi setelah kawan-kawan di Aceh melihat sendiri kerja tim parlemen.net di DPR sewaktu advokasi RUU PA. Ini kali kedua saya membantu mereka. Kali pertama saya memfasilitasi pembuatan modul pemantauan ACSTF. Salah satu hasil konkritnya adalah berita DPR Aceh di dinding warung kopi solong di ulee kareng :-), hasil lainnya adalah website. Kawan-kawan itu memang luar biasa seumangat dan kreativitasnya.
Ular tangga itu ternyata sangat menarik sebagai alat belajar. Refleksi yang didapat peserta sungguh melampaui dugaan saya (itulah, dilarang "naker" peserta!). Tidak hanya proses legislasi yang ideal (rapat terbuka, data, dan lain sebagainya), tetapi juga refleksi soal dinamika politik legislasi.
Referensi soal pemantauan parlemen tentu tidak hanya parlemen.net. Saya secara khusus juga berbagi soal apa yang dilakukan kawan-kawan KOPEL Makassar dengan "parlemen grup"nya. Parlemen grup itu komunitas pemantau parlemen di kecamatan-kecamatan. Saya sering bilang pada Syam bahwa saya cemburu pada mereka. Kami belum bisa melakukan itu untuk 550 orang anggota DPR. Situasinya sungguh berbeda dengan 20-an anggota DPRD. Saya kira kalau kawan-kawan di Aceh melakukannya akan bagus sekali. Mudah-mudahan jaringan pemantau parlemen dan pengadvokasi kebijakan bisa mantap ;-).
Hasilnya kreatif betul. Foto bisa bicara lebih banyak. Berikut ini cuplikan kreativitas kawan-kawan peserta yang kami minta membuat "iklan" untuk RTL yang mereka buat untuk kabupaten masing-masing (ada perwakilan dari 11 kabupaten/kota yang ikut).


ps. Kalau mau "ular tangga"-nya, bisa minta gratis ke anak2 pshk ;-)

Legenda: Tangga: 4-21 naskah akademik lengkap, 19-44 anggota dpr menguasai materi, 29-53 melibatkan kelompok rentan, 51-61 rapat panja terbuka. Ular: 23-6 anggota sering mangkir, 32-3 RDPU tidak partisipatif, 55-24 panja tertutup, 60-35 studi banding tidak relevan, 63-14 ada tekanan politik
Permainan Ular Tangga yang dimodifikasi ini adalah kreativitas ery, erni dkk awal tahun lalu. Kami sendiri agak jarang memainkannya. Paling-paling waktu pameran atau selagi iseng menunggu diskusi legislasi dimulai. Tapi itupun dilakukan hanya oleh Anna dan Lia. Tapi minggu lalu di pesawat Hanoi-Jakarta tiba-tiba saya terpikir untuk membawa segepok mainan ular tangga berikut setoples dadu dan "prajurit-prajurit"nya ke Banda Aceh esok pagi. Saya, Reny, dan Sugi (yappika) diminta oleh ACSTF untuk memberi pelatihan untuk jaringan pemantau parlemen yang sedang mereka bangun. Ini memang bagian dari dorongan kami, apalagi setelah kawan-kawan di Aceh melihat sendiri kerja tim parlemen.net di DPR sewaktu advokasi RUU PA. Ini kali kedua saya membantu mereka. Kali pertama saya memfasilitasi pembuatan modul pemantauan ACSTF. Salah satu hasil konkritnya adalah berita DPR Aceh di dinding warung kopi solong di ulee kareng :-), hasil lainnya adalah website. Kawan-kawan itu memang luar biasa seumangat dan kreativitasnya.
Ular tangga itu ternyata sangat menarik sebagai alat belajar. Refleksi yang didapat peserta sungguh melampaui dugaan saya (itulah, dilarang "naker" peserta!). Tidak hanya proses legislasi yang ideal (rapat terbuka, data, dan lain sebagainya), tetapi juga refleksi soal dinamika politik legislasi.
Referensi soal pemantauan parlemen tentu tidak hanya parlemen.net. Saya secara khusus juga berbagi soal apa yang dilakukan kawan-kawan KOPEL Makassar dengan "parlemen grup"nya. Parlemen grup itu komunitas pemantau parlemen di kecamatan-kecamatan. Saya sering bilang pada Syam bahwa saya cemburu pada mereka. Kami belum bisa melakukan itu untuk 550 orang anggota DPR. Situasinya sungguh berbeda dengan 20-an anggota DPRD. Saya kira kalau kawan-kawan di Aceh melakukannya akan bagus sekali. Mudah-mudahan jaringan pemantau parlemen dan pengadvokasi kebijakan bisa mantap ;-).
Hasilnya kreatif betul. Foto bisa bicara lebih banyak. Berikut ini cuplikan kreativitas kawan-kawan peserta yang kami minta membuat "iklan" untuk RTL yang mereka buat untuk kabupaten masing-masing (ada perwakilan dari 11 kabupaten/kota yang ikut).

ps. Kalau mau "ular tangga"-nya, bisa minta gratis ke anak2 pshk ;-)
Wednesday, 21 March 2007
Choice Creating dalam Menyusun Solusi Legislasi
Tadi pagi, sambil sarapan, saya dan Erni membincangkan soal metodologi perancangan. Dalam banyak training yang PSHK selenggarakan, ada satu dari tiga langkah dasar dalam Metode Pemecahan Masalah (problem solving method) yang sangat sulit ditularkan dan disimulasikan. Langkah itu adalah yang terakhir: Menyusun Solusi. Berkali-kali kami coba untuk mengubah cara kami menyampaikan langkah ini, berkali-kali pula kami harus kembali ke metode klasik, yakni ceramah. Biasanya yang kami lakukan adalah kami presentasikan butir-butir teori dan tahapan menyusun solusi, terutama penggunaan skema Sampath untuk menggali dan mengaitkan rincian solusi dengan akar masalah yang sudah dianalisis, kemudian memberi tugas simulasi kepada peserta. Namun, seperti yang kami sangka, metode ini kurang berhasil membuat terang pemahaman peserta. Kadang malah membuat frustasi. Pada akhirnya, solusi yang dibuat peserta tak mengundang inspirasi, tak lengkap dan malah kadang tak lagi peduli pada langkah-langkah yang sudah dijalani denga susah payah sebelumnya yakni: menemukan masalah sosial dan menjelaskan akar masalah sosial. Alhasil proses jadi anti-klimaks.
Saya kebetulan sedang membaca blog Inspirit. Ada satu cerita Mas Dani di situ yang berkaitan dengan choice creating. Yakni suatu perspektif yang dikembangkan untuk melampaui model penyusunan solusi dalam problem solving dengan cara membangun sikap dan proses yang lebih dekat pada membangun imajinasi dan menciptakan pilihan-pilihan cerdas. Saya setuju dengan cara pandang ini. Pertama, tugas perancang yang utama adalah menyodorkan berbagai pilihan kepada para pemimpin politik untuk dipertemukan dengan visi politik besar mereka. Kedua, menyusun solusi sangat berbeda sikap dasarnya dengan mengidentifikasi masalah dan menganalisis akar masalah. Dua langkah pertama tersebut memposisikan perancang sebagai penelusur jejak sejarah, dengan posisi psikologis "memandang ke belakang". Sedangkan menyusun solusi justru sebaliknya, perancang diwajibkan membayangkan situasi yang diidealkan, sehingga secara psikologis "memandang ke depan", sambil membenturkannya dengan kenyataan yang sudah berhasil dikumpul dan diolah. Jadi, menyusun solusi mensyaratkan sikap dasar dan metode yang memang harus berbeda. Perspektif choice creating sepertinya memberi landasan itu.
Saya kira metode ini menarik untuk dipinjam-pakai dalam langkah penyusunan solusi dalam legislative drafting. Sebab, perasaan saya, yang lumayan gagal dalam penyusunan solusi perundang-undangan selama ini adalah ketidakberhasilan perancang membangun cita-cita dan visi dalam rancangan undang-undang. Sehingga, solusi yang tersusun lagi-lagi akan terperangkap ke dalam sistem lama yang bermasalah atau yang lagi trend: penjiplakan. Bisa jadi kelihatan seperti solusi baru, tapi terasa kering dan melulu tambal sulam. Bahkan kadang luar biasa "bodong", seperti gambar di bawah ini...

Lantas bagaimana teknik menerapkan perspektif creating choice. Mari kita coba turunkan ke level praktis.
Kata Einstein, "Imagination is more important than science". Imajinasi butuh proses yang sabar dan tidak biasa. Imajinasi bukan sekadar menghayal. Bukan pula sebuah proses menggugah hasrat untuk menggapai sesuatu atas dasar ideologi atau teori-teori umum. (Yang terakhir ini yang biasanya tergelncir pada metode ends-means dalam legislative drafting). Imajinasi meskipun berorientasi ke masa depan, biasanya tetap terkoneksi dengan konteks dan terhubung dengan masa lalu. Imajinasi berupaya menggali "pengetahuan tersembunyi" (tacit knowledge) yang ada di dalam benak dan memvisualisasikannya menjadi visi yang menggairahkan yang membangkitkan antusiasme. Memang tidak mudah. Bahkan John Lennon sendiri mungkin tak menyadari betul hal itu ketika menggubah "Imagine". Apalagi untuk bangsa ini, yang menurut Mas Dani tak terbiasa berimajinasi secara mendalam. Seringkali yang ditelurkan hanya khayalan yang dangkal dan tak mampu menggerakkan orang. Meskipun diteriakkan dan dipaksakan dengan keras ya tak akan merasuk ke dalam jiwa banyak orang.
Proses pengubahan tacit knowledge menjadi pilihan-pilihan solusi (external knowledge), menurut buku "knowledge management" memang butuh metode dan teknik khusus. Tacit knowledge ada di dalam otak kita tidak dalam bentuk digital atau susunan kata-kata. Tapi berbentuk analog atau susunan gambar-gambar. Bayangkan saja begini: coba anda ceritakan dengan lisan secara lengkap raut wajah salah satu teman sekantor anda, sulit bukan. Kalaupun bisa, pasti kurang lengkap. Lebih mudah sebenarnya bila anda disuruh bercerita sambil dipandu dengan gambar-gambar tertentu, seperti dalam proses identifikasi buronan. Atau dengan cara menganalogikannya dengan sesuatu, seperti: bibirnya bak delima merekah, atau alisnya bak semut beriring (peribahasa yang cukup aneh tapi memudahkan).
Knowledge management menganjurkan sebuah jalinan proses: metafor-analog-model. Metafor, secara halus-mulus menkontradiksi dan pada akhirnya mensintesakan dua atau lebih hal-hal yang wajar (dalam arti biasa-biasa saja, atau pada umumnya) menjadi hal yang baru. Metafor membangun imajinasi yang inovatif. Langkah kedua membuat kita menyelam lebih dalam: membangun analogi. Analogi berguna untuk mengkongkretkan metafor ke dalam pilihan-pilihan cerdas. Di langkah terakhir, pembangunan model, berbagai pilihan tersebut dikembangkan dan diturunkan ke dalam bentuk-bentuk yang kongkret, hingga kasat indrawi dan terukur (measureable). Langkah metafor dan analogi biasanya perlu berbagai macam teknik dan media, khususnya yang bernafaskan seni, seperti menggubah lagu, bernyanyi, menggambar, dan lain sebagainya. Gunanya membangunkan otak kiri, otak yang mendorong imajinasi. Bisa jadi langkah ini dilakukan berkali-kali dan bulak-balik. Jangan terburu-buru, karena kegagalan membangun metafor dan analogi hanya akan mempersulit proses pembangunan model. Pada tahap modelling, penjejakan pada bumi realitas perlu dilakukan secara serius. Pada saat inilah proses koneksi, koreksi, kompromi dengan hasil dari analisis akar masalah mesti dilakukan dengan hati-hati dan jeli, tanpa mengorbankan visi dan menelantarkan imajinasi.
Itu dulu sementara ini. Semoga cara ini lebih merangsang kita menyusun solusi perundang-undangan yang luar biasa dan inspiratif.
Waspada: metode dan teknik ini sampai sekarang belum pernah saya coba sendiri, baru sebatas gagasan saja. Nanti kalau sudah diterapkan akan saya ceritakan kisah kasihnya ... :-)
Saya kebetulan sedang membaca blog Inspirit. Ada satu cerita Mas Dani di situ yang berkaitan dengan choice creating. Yakni suatu perspektif yang dikembangkan untuk melampaui model penyusunan solusi dalam problem solving dengan cara membangun sikap dan proses yang lebih dekat pada membangun imajinasi dan menciptakan pilihan-pilihan cerdas. Saya setuju dengan cara pandang ini. Pertama, tugas perancang yang utama adalah menyodorkan berbagai pilihan kepada para pemimpin politik untuk dipertemukan dengan visi politik besar mereka. Kedua, menyusun solusi sangat berbeda sikap dasarnya dengan mengidentifikasi masalah dan menganalisis akar masalah. Dua langkah pertama tersebut memposisikan perancang sebagai penelusur jejak sejarah, dengan posisi psikologis "memandang ke belakang". Sedangkan menyusun solusi justru sebaliknya, perancang diwajibkan membayangkan situasi yang diidealkan, sehingga secara psikologis "memandang ke depan", sambil membenturkannya dengan kenyataan yang sudah berhasil dikumpul dan diolah. Jadi, menyusun solusi mensyaratkan sikap dasar dan metode yang memang harus berbeda. Perspektif choice creating sepertinya memberi landasan itu.
Saya kira metode ini menarik untuk dipinjam-pakai dalam langkah penyusunan solusi dalam legislative drafting. Sebab, perasaan saya, yang lumayan gagal dalam penyusunan solusi perundang-undangan selama ini adalah ketidakberhasilan perancang membangun cita-cita dan visi dalam rancangan undang-undang. Sehingga, solusi yang tersusun lagi-lagi akan terperangkap ke dalam sistem lama yang bermasalah atau yang lagi trend: penjiplakan. Bisa jadi kelihatan seperti solusi baru, tapi terasa kering dan melulu tambal sulam. Bahkan kadang luar biasa "bodong", seperti gambar di bawah ini...

Lantas bagaimana teknik menerapkan perspektif creating choice. Mari kita coba turunkan ke level praktis.
Kata Einstein, "Imagination is more important than science". Imajinasi butuh proses yang sabar dan tidak biasa. Imajinasi bukan sekadar menghayal. Bukan pula sebuah proses menggugah hasrat untuk menggapai sesuatu atas dasar ideologi atau teori-teori umum. (Yang terakhir ini yang biasanya tergelncir pada metode ends-means dalam legislative drafting). Imajinasi meskipun berorientasi ke masa depan, biasanya tetap terkoneksi dengan konteks dan terhubung dengan masa lalu. Imajinasi berupaya menggali "pengetahuan tersembunyi" (tacit knowledge) yang ada di dalam benak dan memvisualisasikannya menjadi visi yang menggairahkan yang membangkitkan antusiasme. Memang tidak mudah. Bahkan John Lennon sendiri mungkin tak menyadari betul hal itu ketika menggubah "Imagine". Apalagi untuk bangsa ini, yang menurut Mas Dani tak terbiasa berimajinasi secara mendalam. Seringkali yang ditelurkan hanya khayalan yang dangkal dan tak mampu menggerakkan orang. Meskipun diteriakkan dan dipaksakan dengan keras ya tak akan merasuk ke dalam jiwa banyak orang.
Proses pengubahan tacit knowledge menjadi pilihan-pilihan solusi (external knowledge), menurut buku "knowledge management" memang butuh metode dan teknik khusus. Tacit knowledge ada di dalam otak kita tidak dalam bentuk digital atau susunan kata-kata. Tapi berbentuk analog atau susunan gambar-gambar. Bayangkan saja begini: coba anda ceritakan dengan lisan secara lengkap raut wajah salah satu teman sekantor anda, sulit bukan. Kalaupun bisa, pasti kurang lengkap. Lebih mudah sebenarnya bila anda disuruh bercerita sambil dipandu dengan gambar-gambar tertentu, seperti dalam proses identifikasi buronan. Atau dengan cara menganalogikannya dengan sesuatu, seperti: bibirnya bak delima merekah, atau alisnya bak semut beriring (peribahasa yang cukup aneh tapi memudahkan).
Knowledge management menganjurkan sebuah jalinan proses: metafor-analog-model. Metafor, secara halus-mulus menkontradiksi dan pada akhirnya mensintesakan dua atau lebih hal-hal yang wajar (dalam arti biasa-biasa saja, atau pada umumnya) menjadi hal yang baru. Metafor membangun imajinasi yang inovatif. Langkah kedua membuat kita menyelam lebih dalam: membangun analogi. Analogi berguna untuk mengkongkretkan metafor ke dalam pilihan-pilihan cerdas. Di langkah terakhir, pembangunan model, berbagai pilihan tersebut dikembangkan dan diturunkan ke dalam bentuk-bentuk yang kongkret, hingga kasat indrawi dan terukur (measureable). Langkah metafor dan analogi biasanya perlu berbagai macam teknik dan media, khususnya yang bernafaskan seni, seperti menggubah lagu, bernyanyi, menggambar, dan lain sebagainya. Gunanya membangunkan otak kiri, otak yang mendorong imajinasi. Bisa jadi langkah ini dilakukan berkali-kali dan bulak-balik. Jangan terburu-buru, karena kegagalan membangun metafor dan analogi hanya akan mempersulit proses pembangunan model. Pada tahap modelling, penjejakan pada bumi realitas perlu dilakukan secara serius. Pada saat inilah proses koneksi, koreksi, kompromi dengan hasil dari analisis akar masalah mesti dilakukan dengan hati-hati dan jeli, tanpa mengorbankan visi dan menelantarkan imajinasi.
Itu dulu sementara ini. Semoga cara ini lebih merangsang kita menyusun solusi perundang-undangan yang luar biasa dan inspiratif.
Waspada: metode dan teknik ini sampai sekarang belum pernah saya coba sendiri, baru sebatas gagasan saja. Nanti kalau sudah diterapkan akan saya ceritakan kisah kasihnya ... :-)
Monday, 18 December 2006
Bermain dan Belajar
Kita harus terus menerus mengembangkan metode pelatihan perancangan. Metode yang digunakan diberi nama oleh para ahli pendidikan: Metode Pembelajaran Orang Dewasa alias andragogi. Kenapa andragogi? Katanya:
adults need to be involved in the planning and evaluation of their instruction (Self-concept and Motivation to learn), experience (including mistakes) provides the basis for learning activities (Experience), adults are most interested in learning subjects that have immediate relevance to their job or personal life (Readiness to learn), adult learning is problem-centered rather than content-oriented (Orientation to learning).

Awalnya, metode pelatihan yang digunakan oleh PSHK sangat terbatas. Kebanyakan ceramah dan tanya jawab. Seperti kuliah konvensional di kampus. Paling ditambah studi kasus, karena intinya memang praktek penggunaan metode pemecahan masalah (MPM) dan perancangan peraturan. Juga ditambah sedikit permainan di sela-sela sesi.
Tapi semakin kita ngobrol sama banyak orang dan belajar, kita jadi ingin semakin mengembangkan metode pelatihan. Keinginan ini makin kuat bukan hanya karena kita makin menyadari efek positifnya pendekatan belajar seperti ini, tapi juga karena terasa sekali banyak peserta yang merasa fun dan happy betul ketika mengikuti pelatihan. Bayangkan, anggota DPD, DPR, bisa sampai joget-joget dan ketawa-ketawa bahagia. Sampai-sampai ada beberapa anggota DPD yang beberapa kali ikut pelatihan karena alasan ini :-).
Sekarang ini, kita sudah punya beberapa lembar kasus dan permainan. Misalnya lembar kasus “Kisah Negeri Berduri” untuk membedakan antara MPM, ends-means, dan incrementalism. Juga menggunakan lagu-lagu seperti lagu Bang Toyib dan lagunya Benyamin untuk mendapatkan esensi bahwa satu masalah sosial, bisa disebabkan oleh banyak penyebab - pengantar ke agenda ROCCIPI.
Sekarang ini, rival sudah ikutan pelatihannya Inspirit dan PSHK sendiri waktu strategic planning 2006 lalu difasilitasi oleh salah satu pendiri Inspirit, Mas Dani. Sementara, aria juga sudah ikutan suatu pelatihan untuk fasilitator yang diselenggarakan oleh UNDP. Sehingga kita semakin banyak masukan. Termasuk untuk energizer.
Saya sendiri, dalam pengalaman saya diundang menjadi fasilitator, mulai “mencuri-curi” metode yang digunakan rival dan juga mas Dani sewaktu memfasilitasi SP kita [nggak keberatan kan Mas… ;-), belum punya uang buat ikut pelatihan Inspirit siiih… :-)].
Yang menarik, pendekatan yang mulai dipakai rival untuk menggunakan kartu-kartu anak-anak untuk sesi pengelompokkan dan penata-urutan peraturan (grouping and ordering). Sementara, waktu pelatihan DPD kemarin, saya dan Anna menggunakan resep makanan.
Yang saya “curi” dari metode yang dipakai mas Dani waktu SP adalah “mandala”. Metode ini saya gunakan untuk membantu ibu-ibu anggota legislatif aceh untuk berefleksi, sebelum mereka masuk ke materi soal bagaimana peran mereka sebagai legislatif perempuan dalam fungsi legislasi yang mereka miliki. Mandala adalah sebuah gambar bulatan yang di tengahnya ada sebuah gambar dan kemudian di antara lingkaran dalam dan lingkaran luar dibagi-bagi lagi untuk diisi dengan gambar-gambar lainnya. Untuk ibu-ibu itu, saya minta mereka menggambar simbol atau gambar apapun yang bisa menceritakan “kenapa mau menjadi anggota legislatif?” untuk bagian tengah. Sementara ruang di antara lingkaran tengah dan lingkaran terluar kita bagi menjadi tiga bagian untuk tiga gambar: cita-cita sebagai anggota legislatif perempuan, kelebihan sebagai anggota legislatif perempuan, dan masalah perempuan yang paling menjadi perhatian. Gambar-gambar ini hanya alat untuk mereka berefleksi sewaktu menggambar dan kemudian bercerita lebih banyak ketika mereka diminta menceritakan makna gambar-gambar itu. Saya cukup suka metode ini sebagai alat refleksi. Sebab sewaktu SP, terasa betul efek refleksi itu pada saya.
Beberapa peserta tampak malu-malu. "Kayak mana ini.. saya nggak bisa menggambar." Susah juga saya meyakinkan mereka bahwa bukan gambar yang mau dinilai. Mungkin karena mereka tidak biasa: pelatihan kok disuruh menggambar! :-) Sebagian lagi, meniru gambar lambang perempuan yang kebetulan terpampang di halaman awal presentasi saya. Sebuah strategi yang salah untuk menayangkan gambar itu di bagian awal. Tapi toh yang penting memang refleksinya. Cerita-cerita mereka sangat menarik! Ada yang berkeinginan membantu perempuan buruh perkebunan di kabupatennya. Ada yang ingin membantu perempuan korban konflik di Aceh. Ada yang hobi berkebun dan menganggap itu sebagai kelebihannya untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam hal ekonomi, dan lain sebagainya. Dari situ, baru saya presentasikan soal peran hukum dan fungsi legislasi mereka, dengan selalu mengaitkannya dengan potongan-potongan cerita mereka. Kesimpulannya, banyak yang bisa dilakukan untuk perempuan melalui fungsi legislasi. Banyak Qanun yang bisa didorong dan perlu dicegah :-) supaya perempuan di Aceh tidak lagi tertindas dan semakin berdaya.
Sekarang ini kita sedang terus menerus mengembangkan metode pelatihan. Saya yakin setiap pulang pelatihan pasti banyak cerita baru dari para fasilitator. Tapi yang jelas, buat saya (dan saya yakin juga buat kawans lain), banyak hal yang juga saya pelajari dari peserta setiap pelatihan. Dan tentu saja yang paling membuat saya seringkali seperti batere yang di-charged adalah setiap kali mendengar pengalaman mereka.
adults need to be involved in the planning and evaluation of their instruction (Self-concept and Motivation to learn), experience (including mistakes) provides the basis for learning activities (Experience), adults are most interested in learning subjects that have immediate relevance to their job or personal life (Readiness to learn), adult learning is problem-centered rather than content-oriented (Orientation to learning).

Awalnya, metode pelatihan yang digunakan oleh PSHK sangat terbatas. Kebanyakan ceramah dan tanya jawab. Seperti kuliah konvensional di kampus. Paling ditambah studi kasus, karena intinya memang praktek penggunaan metode pemecahan masalah (MPM) dan perancangan peraturan. Juga ditambah sedikit permainan di sela-sela sesi.
Yang menarik, pendekatan yang mulai dipakai rival untuk menggunakan kartu-kartu anak-anak untuk sesi pengelompokkan dan penata-urutan peraturan (grouping and ordering). Sementara, waktu pelatihan DPD kemarin, saya dan Anna menggunakan resep makanan.
Yang saya “curi” dari metode yang dipakai mas Dani waktu SP adalah “mandala”. Metode ini saya gunakan untuk membantu ibu-ibu anggota legislatif aceh untuk berefleksi, sebelum mereka masuk ke materi soal bagaimana peran mereka sebagai legislatif perempuan dalam fungsi legislasi yang mereka miliki. Mandala adalah sebuah gambar bulatan yang di tengahnya ada sebuah gambar dan kemudian di antara lingkaran dalam dan lingkaran luar dibagi-bagi lagi untuk diisi dengan gambar-gambar lainnya. Untuk ibu-ibu itu, saya minta mereka menggambar simbol atau gambar apapun yang bisa menceritakan “kenapa mau menjadi anggota legislatif?” untuk bagian tengah. Sementara ruang di antara lingkaran tengah dan lingkaran terluar kita bagi menjadi tiga bagian untuk tiga gambar: cita-cita sebagai anggota legislatif perempuan, kelebihan sebagai anggota legislatif perempuan, dan masalah perempuan yang paling menjadi perhatian. Gambar-gambar ini hanya alat untuk mereka berefleksi sewaktu menggambar dan kemudian bercerita lebih banyak ketika mereka diminta menceritakan makna gambar-gambar itu. Saya cukup suka metode ini sebagai alat refleksi. Sebab sewaktu SP, terasa betul efek refleksi itu pada saya.Beberapa peserta tampak malu-malu. "Kayak mana ini.. saya nggak bisa menggambar." Susah juga saya meyakinkan mereka bahwa bukan gambar yang mau dinilai. Mungkin karena mereka tidak biasa: pelatihan kok disuruh menggambar! :-) Sebagian lagi, meniru gambar lambang perempuan yang kebetulan terpampang di halaman awal presentasi saya. Sebuah strategi yang salah untuk menayangkan gambar itu di bagian awal. Tapi toh yang penting memang refleksinya. Cerita-cerita mereka sangat menarik! Ada yang berkeinginan membantu perempuan buruh perkebunan di kabupatennya. Ada yang ingin membantu perempuan korban konflik di Aceh. Ada yang hobi berkebun dan menganggap itu sebagai kelebihannya untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam hal ekonomi, dan lain sebagainya. Dari situ, baru saya presentasikan soal peran hukum dan fungsi legislasi mereka, dengan selalu mengaitkannya dengan potongan-potongan cerita mereka. Kesimpulannya, banyak yang bisa dilakukan untuk perempuan melalui fungsi legislasi. Banyak Qanun yang bisa didorong dan perlu dicegah :-) supaya perempuan di Aceh tidak lagi tertindas dan semakin berdaya.
Sekarang ini kita sedang terus menerus mengembangkan metode pelatihan. Saya yakin setiap pulang pelatihan pasti banyak cerita baru dari para fasilitator. Tapi yang jelas, buat saya (dan saya yakin juga buat kawans lain), banyak hal yang juga saya pelajari dari peserta setiap pelatihan. Dan tentu saja yang paling membuat saya seringkali seperti batere yang di-charged adalah setiap kali mendengar pengalaman mereka.
Subscribe to:
Posts (Atom)